Hari ini (16/7) merupakan hari yang paling menegangkan bagi Peserta Didik Baru SMK Negeri 3 Jombang. Bagaimana tidak, setelah bersusah payah berkutat dengan serangkaian seleksi, akhirnya mereka menjalani MPLS atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Pengenalan Lingkungan Sekolah pada tahun ajaran ini (2018/2019) diselenggarakan dengan jadwal yang tertata rapi berdasarkan “Juknis MPLS” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Serangkaian Acara 5 hari ini dibuka dengan Upacara Pembukaan MPLS yang dipimpin langsung oleh Kepala SMK Negeri 3 Jombang, Drs. Gatot Wachid Widharto, M. M.Pd.

Drs. Gatot Wachid Widharto, M. M.Pd. Selaku Pembina MPLS SMKN 3 Jombang

Upacara yang dilaksanakan di Lapangan Belakang ini diikuti oleh 561 siswa dan 33 siswi. Setelah upacara selesai dilaksanakan, para siswa peserta MPLS diarahkan untuk menuju lokasi lain yang juga merupakan tempat pelaksanaan MPLS. Diantaranya ada : Aula SMK Negeri 3 Jombang serta beberapa ruang kelas. Sesuai dengan Juknis MPLS dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, kegiatan berskala lingkungan sekolah ini bertujuan untuk mengetahui potensi para peserta didik baru.

Penyematan tanda peserta MPLS SMKN 3 Jombang

Lebih lengkapnya, MPLS juga bertujuan untuk membantu siswa beradaptasi terhadap lingkungan sekolah / kampus yang baru. Selain itu, MPLS juga bertujuan menumbuhkan motivasi dan semangat belajar baru bagi siswa. Dari kegiatan ini diharapkan siswa dapat menaati peraturan yang ada di SMK Negeri 3 Jombang. Dengan tertanamnya sikap mental, spiritual, budi pekerti yang baik, bertanggung jawab, toleransi, dan berbagai nilai positif lain pada diri siswa sesuai visi dan misi SMK Negeri 3 Jombang.

Peserta MPLS SMKN 3 Jombang

Beberapa materi yang disampaikan kepada para Peserta MPLS adalah sebagai berikut :

  1. Wawasan wiyata mandala.
  2. Tata krama pergaulan dan kedisiplinan.
  3. Internalisasi nilai kebangsaan.
  4. Pengenalan Kurikulum, Program dan Kompetensi Keahlian.
  5. Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR).
  6. Penanggulangan penyalahgunaan narkoba.
  7. Undang-undang ITE.
  8. Peraturan Baris Berbaris.
  9. Lingkungan hidup.
  10. Penguatan iman dan taqwa

Dalam hal pemberian materi, Pihak SMK Negeri 3 Jombang juga bekerjasama dengan Tim TNI Rayon Jombang, Tim Kejaksaan Negeri Jombang, Tim Kepolisian Resor Jombang, serta Tim JCC (Jombang Care Center) sebagai narasumber beberapa materi. Bahkan menurut jadwal, rabu besok (18/07) adalah waktu dimana setiap Ekstrakurikuler melakukan “Unjuk Gigi” di depan seluruh Peserta MPLS guna menjaring anggota baru.

Salah satunya adalah Teater Kejora. “Klub” Teater Siswa yang berdiri pada Juli 2015 lalu ini akan mempresentasikan sebuah rangkaian sembilan slide yang berisikan deskripsi serta dokumentasi dari berbagai pementasan dimana mereka terlibat. “Kami akan  menampilkan sembilan slide Power Point, namun kemungkinan masih akan ditambah tergantung situasi dan kondisi kami nantinya.” Ucap Ilham Liorahmat, Kepala Divisi Kerumah Tanggaan Teater Kejora. Ilham juga menuturkan bahwa menurut informasi yang didapatkannya, durasi presentasi akan diberikan 6-12 menit per-Ekstrakurikuler.

Saat kami menemui Kepala SMK Negeri 3 Jombang, kami mendapat sambutan ramah dari beliau. Saat kami tanya tentang MPLS, beliau menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara MPLS dengan MOS. Hal itu beliau katakan untuk menjawab pertanyaan yang berkembang di masyarakat. Beliau juga menuturkan bahwasannya kegiatan ini murni untuk membantu Peserta Didik Baru lebih mengenali lingkungan belajar mengajar mereka dengan lebih baik.

“Sebagai siswa tentunya kalian harus tahu persis sarana apa saja yang ada di sekolah, siapa guru kalian, sehingga kalian paham apa yang kalian butuhkan untuk berkembang, agar nantinya jika kalian menjadi sesuatu, sudah tahu betul apa yang dibutuhkan.” Ucap Drs. Gatot Wachid Widharto, M. M.Pd.

Beliau juga berkomentar tentang para siswa dewasa ini yang mendaftar sekolah dengan cara ‘asal-asalan’ Menurut beliau, seorang siswa seharusnya mendaftar ke sekolah pilihannya sendiri sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Namun kenyataan seakan seperti sebuah pedang bermata dua, kebanyakan siswa dewasa ini terlalu gegabah dalam menentukan pilihannya dikarenakan pengaruh-pengaruh dari teman-temannya. Ada pula dalam beberapa kasus siswa yang mendapat ‘paksaan’ dari pihak orang tua dalam hal memilih Program Studinya.

“Sebenarnya di SMK ini anak tidak dididik untuk memiliki sebuah skill, karena hal itu tidak dimungkinkan. Sebagai contoh otomotif, setiap tahunnya selalu ada perubahan / alih teknologi meskipun tidak signifikan, sementara seorang anak mengenyam pendidikan haruslah minimal 3 tahun. Ini juga masalah sebenarnya, maka dari itu, tujuan pembelajaran di sekolah ini adalah membekali siswa dengan dasar kemampuan yang matang sehingga mampu mengembangkan pengetahuan serta skill mereka dalam bidang yang digeluti.” Tutur beliau melanjutkan penjelasan.

Beliau juga memberikan sedikit komentar tentang sistem Zonasi yang dinilai “gagal” oleh masyarakat. Menurut beliau, Sistem Zonasi ini dianggap gagal karena dirasa mempersulit anak untuk masuk ke sekolah yang dituju. Sistem ini meniadakan ‘Sekolah Favorit’ dengan alasan pemerataan pendidikan, sehingga “seakan-akan” setiap sekolah sama. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Adapun yang menjadi pembeda menurut beliau, adalah standar yang digunakan di setiap sekolah yang berbeda, serta perbedaan pola pikir yang ditanamka pada siswa yang juga berbeda. “Saya dulu sekolah di Jombang tidak pernah lepas dari peringkat 1,2, dan 3. Namun itu semua berubah saat saya sudah mulai pindah ke Yogya, di sana justru saya merasa paling bodoh sedunia. Perbedaan yang saya rasakan betul adalah standar serta pola pikir yang berbeda di antara Jombang dan Yogya kala itu.” Tutur beliau menjelaskan.

Demikian berita ini, kami ( Ahmad Fanani, Ilham Liorahmat, dan Muhammad Wahyu Tirta), melaporkan.

Ilham Liorahmat, Achmad Fanani, Wahyu Tirta – Tim Jurnalis SMKN 3 Jombang